Pelan-pelan mimpi itu datang silih berganti
Seperti hujan yang tak pernah turun sendiri
Otakku bagaikan tanah yang rela menampung setiap impian yang
menghampiri
Sampai tidak sadar bahwa banyak yang mencaci maki
Memangnya kenapa dengan impianku ini?
Bukankah aku boleh hidup dengan caraku sendiri?
Aku hanya bermimpi setinggi dan sesuka yang aku bisa
Namun kenapa ketidaksukaan yang muncul dari Anda semua?
Aku tahu, impianku tak masuk akal
Rintangan yang dilalui sangatlah terjal
Jatuh bangun, perih luka tak akan pernah luput
Hingga rasanya ingin semaput
Sudah cukup terbiasa dipandang sebelah mata
Diremehkan sampai tiada nilai harganya
Dianggap terlalu idealis sampai hati teriris
Hingga keringat berebutan tampil di pelipis
Pemimpi tak pernah takut akan gagal
Tak lelah berjuang, do’a tak pernah luput dirapal
Peluh getir penuh tekad kami raup tanpa sisa
Sampai tidak sadar banyak menghasilkan luka karenanya
Untuk tubuh, tolong berjuang meskipun letih
Untuk hati, tolong tetap utuh meskipun perih
Untuk otak, tolong bertahan agar selalu jernih
Semoga impianku tak pernah berakhir pada salah pilih
Comments
Post a Comment