pict: google.
Ada sesuatu yang
mengganggu. Teramat mengganggu. Sehingga aku mulai berhenti berfikir. Mungkin
bisa dibilang aku sedang gila dengan semua ini. Tapi, ketika setiap
problematika itu menghujamku, aku merasa kian sulit untuk bangkit. Sehingga
setiap relung tindakan yang ada tak pernah tersisa bahkan untuk urusan pribadi
sekalipun. Semua telah dirampas begitu saja. Aku merasa tertekan. Menginginkan
usai, namun aku berfikir kembali. Selemah inikah diriku?
Aku mulai mencari
solusi. Tak peduli dengan peluh yang berlomba-lomba membanjiri hingga nafasku
tersengal. Tak peduli pula dengan langkahku yang kian terseok. Hingga
terjerembab tak pernah hilang dari kamus perjuanganku.
Semua ini sama rata
(katanya). Tapi bagiku tidak. Semua ini belum adil. Aku masih mencari makna
keadilan yang hingga kini belum juga ketemu. Untuk diriku maupun orang
disekitarku. Bahkan untuk orang yang membutuhkan selain kami.
Setiap waktu aku
tersungkur. Bersimpuh dengan bisikan-bisikan kepada bumi yang didengar oleh
langit. Aku menangis dengan lepas. Semua beban di pundak terasa begitu nyata.
Hingga rasanya ingin roboh begitu saja. Begitu berat. Ingin berteriak tapi tak
mampu. Setidaknya biarkan aku bebas untuk kali ini saja. Sungguh aku butuh.
Namun, ketika semua tersalur
terbawa angin menuju angkasa, aku merasakan tenang. Tentram yang tak
terdefinisikan. Rintihanku perlahan menguat. Keluhku menjadi-jadi. Aku seperti
orang yang kehilangan arah namun tau jalan untuk kembali. Aku memohon. Selalu
memohon.
Hingga pada akhirnya
aku mendapat jawaban dari setiap pertanyaanku. Semua ini adil. Semua ini sama
rata. Semua ini sudah diperhitungkan. Itulah jawaban dari seluruh resahku. Aku
paham. Ternyata selama ini aku masih terlalu jauh dengan-Nya. Dia yang selalu
ingin menggapaiku namun aku selalu menghindar. Dia yang selalu membisikkan
jawaban di pendengaranku namun aku selalu manampik-Nya. Sebegitu tidak tahunya
diriku. Aku yang bukan apa-apa begitu sombong terhadap-Nya. Aku yang tak pernah
luput dari dosa selalu saja mencari jawaban yang tak lain jawaban itu selalu
dihidangkan di depan mataku tanpa diminta. Dia lah yang paling mengerti tentang
apa mauku. Tentang apa mau hamba-hamba-Nya.
Aku malu. Merah merona
sudah tak bisa disembunyikan lagi. Inikah hamba yang tidak tahu diri dengan
Sang Pencipta semesta?
Perlahan bebanku
hilang. Bukan hilang begitu saja. Namun ada yang membantu membawa beban-beban
ini. Lihatlah. Begitu sayangnya Dia kepadaku. Kepada hamba-hamba-Nya yang
selalu saja menyalahi garis aturan-Nya.
Kini, aku perlahan
bangkit. Mengisi setiap pemikiranku dengan motivasi tinggi untuk mewujudkan
tujuan yang nyata. Tujuan besar yang dinantikan oleh setiap insan. Mampu
tidaknya diriku, tentu masih ada yang membantu. Karena aku percaya. Percaya
dengan setiap garis takdir yang dapat dirubah meskipun ada yang sudah kekal
dengan skenario hebat-Nya.
Teruntuk Allah SWT yang
selalu menjadi pertama dalam hidupku. Tetaplah di hati hamba-hamba-Mu ini.
Comments
Post a Comment