Sedang terbangun dengan kenyataan dunia yang fana ini. Dimana pemimpin yang benar adanya sedang disembunyikan. Namun, lama kelamaan akan menyeruak juga. Bukan urusanku memang. Tapi apa salahnya jika aku turut ikut dalam kemeriahan ini? Sekedar menambahkan opini yang ringan.
Sebenarnya, apa yang ada di pikiran orang-orang macam itu? Ketika bangga dengan kekerasan yang mereka gencarkan. Membuat dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Merusak citra sendiri dan bangsanya sendiri. Sungguh memalukan.
Menyuapi dunia dengan kobaran semangat salah arah. Membujuk setiap pentolan-pentolan suatu perkumpulan. Hingga seperti tak tahu malu jika kedoknya terbongkar. Oh, bukan. Memang kedoknya sudah mulai terbongkar. Namun sayangnya belum seberapa. Karena yang pasti, rencana yang dia susun ini pastilah lebih besar dari dugaan orang-orang. Entah sampai kapan, yang jelas semua ini akan berakhir pada waktunya.
Kadang aku berpikir juga. Mungkin urat malu orang-orang seperti ini sudah putus dari lahir. Atau memang mereka sama sekali tidak diberi nikmat merasakan yang namanya malu? Itu adalah sebuah misteri yang sungguh tidak penting untuk diungkap.
Ketika krisis kemanusiaan semakin membara. Dan juga menjadi perbincangan seluruh penjuru dunia. Apakah tidak sedikitpun hati orang-orang itu terketuk? Atau mungkin memang sudah terkutuk? Kupikir opsi ke-2 memang benar adanya.
Hari semakin berganti. Tidak pandang sedang apa kita. Tapi matahari selalu melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Meskipun seringkali dikala musim hujam datang dia tidak diberi kesempatan untuk muncul secara sempurna. Begitupun dengan beberapa orang yang tidak diperlihatkan dengan sempurna namun mereka telah melaksanakan tugasnya dengan cukup totalitas.
Inilah dunia. Dimana fana adalah temannya. Dan mati adalah cerita pulangnya.
Sebenarnya, apa yang ada di pikiran orang-orang macam itu? Ketika bangga dengan kekerasan yang mereka gencarkan. Membuat dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Merusak citra sendiri dan bangsanya sendiri. Sungguh memalukan.
Menyuapi dunia dengan kobaran semangat salah arah. Membujuk setiap pentolan-pentolan suatu perkumpulan. Hingga seperti tak tahu malu jika kedoknya terbongkar. Oh, bukan. Memang kedoknya sudah mulai terbongkar. Namun sayangnya belum seberapa. Karena yang pasti, rencana yang dia susun ini pastilah lebih besar dari dugaan orang-orang. Entah sampai kapan, yang jelas semua ini akan berakhir pada waktunya.
Kadang aku berpikir juga. Mungkin urat malu orang-orang seperti ini sudah putus dari lahir. Atau memang mereka sama sekali tidak diberi nikmat merasakan yang namanya malu? Itu adalah sebuah misteri yang sungguh tidak penting untuk diungkap.
Ketika krisis kemanusiaan semakin membara. Dan juga menjadi perbincangan seluruh penjuru dunia. Apakah tidak sedikitpun hati orang-orang itu terketuk? Atau mungkin memang sudah terkutuk? Kupikir opsi ke-2 memang benar adanya.
Hari semakin berganti. Tidak pandang sedang apa kita. Tapi matahari selalu melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Meskipun seringkali dikala musim hujam datang dia tidak diberi kesempatan untuk muncul secara sempurna. Begitupun dengan beberapa orang yang tidak diperlihatkan dengan sempurna namun mereka telah melaksanakan tugasnya dengan cukup totalitas.
Inilah dunia. Dimana fana adalah temannya. Dan mati adalah cerita pulangnya.
Comments
Post a Comment