Mari sejenak berdiam dan merenung. Berpikir
mengenai setiap tindakan yang telah kita putuskan. Kemudian memberikan
kepercayaan kepada orang lain untuk melaksanakan keputusan tersebut. Atau
mempercayai diri sendiri untuk mewujudkan keputusan.
Pernah terlintas bahwa ragu selalu hadir tanpa
diminta. Menghasut pola pikir kita sehingga optimisme perlahan pudar. Membuat
hati tak tenang lagi. Panik yang tak dapat terdefinisi. Semua ada dan
bercampur. Membuat seakan semuanya terkesan melewati batas. Berlebihan.
Namun, ketika kita sudah berserah pada-Nya,
segala urusan yang ada pasti lah dipermudah. Entah urusan yang ditangani diri
sendiri maupun orang lain. Tinggal bagaimana kita mempercayai siapa yang
diamanahi. Dan inilah titik temunya.
Terkadang kita merasa bahwa ide kita lah penentu keberhasilan
sebuah tujuan. Meminta orang lain untuk menuruti setiap kehendak yang ada pada
otak kita. Dan bertingkah seakan ‘tidak mau tau’ dengan ide cemerlang orang
lain. Egoisme. Apakah pada satu kata ini kita dapat langsung tersadar? Tidak.
Butuh keikhlasan diri dalam mengevaluasi sesuatu.
Menerima kesalahan dan memperbaiki. Bukan meminta kesalahan lalu terhenti dalam
cerminan kesalahan tersebut. Kalau begitu caranya, kapan kita maju? Tidak akan
pernah.
Kapasitas setiap orang berbeda. Menciptakan ide
yang berbeda pula. Penerimaan itu yang perlu dilatih kembali. Kemudian
mempercayakan kepada orang lain dengan penuh ridha. Apapun hasilnya, semua
sudah diusahakan sebaik mungkin. Jika belum sesuai ekspektasi, bukan berarti
kita dapat seenaknya mencela orang yang ‘menurut kita’ sebagai penyebab
kegagalan tersebut. Belum tentu pula jika orang yang kita tuduh merupakan biang
dari segala biang. Bisa jadi diri kita sendiri lah yang menjadi sebab. Dan
orang tersebut yang menjadi akibat. Ya, akibat dari perbuatan kita sendiri.
Maka dari itu, letakkan kepercayaan seyakin
mungkin. Berpikir positif bahwa semua akan berjalan semestinya meskipun tidak
semuanya akan berlalu dengan mulus juga.
Comments
Post a Comment