Kita tidak pernah tau hidup siapa yang akan tetap sama
Atau hidup siapa yang cepat fana
Atau sisa nafas siapa yang masih sangat berguna
Yang kita tahu,
Mulai meratap, melangkah pelan
Pelan namun pasti dalam kebersamaan
Karena sendiri tak selamanya mengenakkan
Kadang melenakan semacam pujian
Kadang menyakitkan semacam hujatan
Tapi kokoh pun tak salah, bukan?
Aku memilih kamu
Merangkul dia
Dan mengajak kalian
Pada satu titik dimana kita dalam peradaban
Dimana harapan bermunculan
Dan kitalah sebagai alat perwujudan
Bukan.
Aku tak mampu menyebut kita sebagai alat
Ralat.
Kita adalah perantara harapan yang terwujudkan
Seperti mimpi yang diperjuangkan
Seperti tujuan yang digerakkan
Semua yang sekira mustahil akan begitu saja terwujud
Bersimpuhlah dan bersujud
Meminta
Berdo’a
Pada yang kuasa,
Allah Ta’ala.
Comments
Post a Comment