Kita tidak pernah tahu apa yang disebut dengan sabar. Apalagi
jika umur kita masih belia dan dipaksa untuk sabar mengenai cinta. Aku sedang
tidak mengetikkan kalimat yang sewajarnya. Namun, aku hanya ingin mengetikkan
kalimat realita dimana remaja yang terkena virus jatuh cinta mungkin saja
sedang dilema. Tak urung, mereka, bahkan diriku mungkin pernah berada dalam
suatu keadaan dimana kita kebingungan harus mengutarakan yang mana. Disinilah
pola pikir remaja yang harus dibenarkan. Kenapa harus diutarakan? Tidak bisakah
dipendam dulu? Disimpan baik-baik kemudian barulah ketika Allah SWT memberi
izin, kita langsung mengutarakannya.
Tapi ingat. Cinta yang hakiki itu hanyalah cinta kepada Allah
SWT. Cinta kepada Rasulullah. Karena dengan seperti itu, pasti tak akan pernah
ada yang namanya sakit hati dengan alasan dikhianati. Berharaplah hanya kepada
Dzat yang memang sepantasnya diharapkan. Bukan malah berharap kepada yang
salah. Yang fana. Yang belum jelas cinta mereka kepada kita. Bisa saja cinta
itu hanyalah kedok belaka (?)
Jangan gegabah dengan perasaan yang belum pasti akan bertahan
lama. Mungkin bisa jadi itu hanyalah cinta monyet. Cinta sesaat. Cinta kagum
tanpa ada unsur apa-apa. Oh, bukan. Mungkin itu hanyalah suka yang disalah artikan
menjadi cinta.
Kawan, kalian masih punya masa depan. Tolong dimanfaatkan.
Memangnya kalian mau hanyut dalam penyesalan? Tidak kan?
Sekian.
Comments
Post a Comment