Sejenak Diam

pict: google.

Kita tidak pernah tau apa itu kebetulan. Entah itu kebetulan yang disengaja maupun tidak disengaja. Namun ingat, bahwa Allah swt telah merencanakan semua ini. Jadi, bagi Allah swt semua ini tidak ada yang kebetulan. Semua telah tersusun rapi melebihi tatanan buku di perpustakaan. Rapi melebihi deret gigi yang dibentengi. Dan rapi melebihi genting yang disusun menjadi atap.
Dunia ini penuh warna. Tak hanya warna mencolok, tapi juga warna kelam yang tak kalah banyaknya. Tinggal bagaimana kita melewati semua tantangan Allah swt dan kemudian mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak.
Untuk apa hidup jika yang kita lakukan tak benar-benar berfaedah. Untuk apa terlahir jika kita tak membawa perubahan. Untuk apa berkata jika yang kita ucapkan adalah kalimat-kalimat tercela. Untuk apa? Untuk apa? Dan untuk apa?
Jangan pernah jengah untuk mencapai sebuah perubahan. Jadilah akar perubahan itu. Jadilah awal dari segala jalan perubahan menuju kebaikan. Ingatlah bahwa dunia itu fana. Bahwa kita tidak pernah tau sampai mana umur kita akan bertahan. Kita kadang tidak tau siapa-siapa orang yang suka maupun tidak suka dengan diri kita. Kita tidak tau seberapa amal baik kita sehingga kita pun tidak tau apakah kelak kita masuk ke syurga kekal-Nya.
Teruntuk sahabat seimanku. Sahabat yang kucintai. Sahabat seperjuangan sejalan dengan tujuan. Resapi dan pahamilah segala kejadian yang pernah menimpa kalian. Mungkin, itu akan menjadi sedikit pelajaran untuk kita menuju pendewasaan diri. Menjadi penuntun kita menuju jalan dengan ujung cahaya terang benderang tiada tara. Dimana dalam cahaya terang tersebut tersimpan sekian banyak kenikmatan yang telah disiapkan Allah swt untuk orang-orang yang mampu.
Mampu dalam hal apa? Tentu saja mampu dalam hal menjaga nafsu mereka. Menjaga aib mereka maupun aib orang lain. Menjaga amal mereka. Menjaga taqwa mereka. Dan menjaga iman mereka. Mampu memperbaiki apa yang kurang benar. Mampu menegur diri sendiri dan orang lain yang berbuat salah. Mampu ikhlas dalam setiap langkah untuk dakwah.
Sekarang mari kita memperbaiki diri. Memahami akan sebuah kejadian yang kita anggap sebagai kebetulan. Mendewasakan diri dalam menyimpulkan sebuah keputusan dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sesungguhnya amarah itu tak akan pernah luput dari kita. Tapi kembali kepada diri kita tentang bagaimana hati ini menjaga perasaannya. Bersabar dalam tegar. Tersenyum dalam sakit. Ikhlas dalam langkah. Bismillah.

Comments