Katanya, Tapi, dan Lalu

Katanya semua akan indah pada waktunya
Tapi kapan waktu itu berkenan untuk menampilkan sosoknya?
Katanya jadikan kritikan orang sebagai masukan
Tapi kapan hati ini berani menganggapnya begitu?

Katanya dunia ini luas melebihi samudra
Tapi kenapa sulit untuk tidak bertemu dengan sosok itu lagi?
Katanya cinta itu buta
Tapi kenapa mata ini tak pernah henti melihat yang enggan untuk dilihat?

Katanya manusia itu punya hati nurani
Tapi kenapa tidak semua orang sebaik dia?
Katanya menggelayuti dunia itu cukup
Tapi itu semua ternyata salah

Katanya sulit untuk melupakan
Tapi kenapa sosok itu dengan mudahnya melepaskan?
Katanya pertemuan pertama itu dapat berkesan
Tapi kenapa rasanya sama sekali tak ada pesan?

Lalu apakah diizinkannya pengizinan akhirnya bisa beranjak?
Lalu apakah semua itu berarti di kehidupannya?
Lalu apakah diri ini dapat menggerayangi setiap detik kehidupannya?
Lalu bolehkah merelakan sepihak tanpa izin?

Meminta sebuah peradilan tak semudah membalikkan telapak tangan
Begitu banyak pelajaran yang terlalu wajib untuk disimpan
Menyisipkan setiap cerita dan menyatukan
Bertemu atau pergi, dengan atau tanpa paksaan

Beginilah roda trolly kehidupan
Mengikuti alur yang telah ditentukan
Menemukan setiap kesempatan dalam lipatan
Sebuah pengharapan yang tak pernah terlihat laju keruncingan

Gejolak tak mampu merelakan rasa untuk pergi
Menerpa angin sunyi lalu pergi
Kenyataan yang tidak akan pernah bisa dipungkiri
Menutupi setiap liku kelakuan ini

Akhirnya kaki enggan untuk melangkah
Akhirnya diri ini mulai menyerah
Pada titik yang dirasa telah membuncah
Meledak dan tak terarah





Comments