Pasti
udah nggak asing lagi sama Valentine Days. Budaya Barat yang seharusnya nggak
kita lestarikan. Budaya Barat yang sudah meracuni jalan fikiran. Sebenarnya
bagaimana asal mula adanya Valentine Days itu? Silahkan baca ulasan singkat di
bawah ini ...
Hari raya ini adalah
salah satu hari raya bangsa Romawi Paganis. Bangsa romawi telah menyembah
berhala semenjak 17 abad silam. Tentang sejarah valentine ini ada banyak versi
yang menyebutkan, tetapi dari sekian banyak versi menyimpulkan bahwa hari
valentine tidak memiliki latar belakang yang jelas sama sekali. Perayaan ini
telah ada semenjak abad ke-4 SM, yang diadakan pada tanggal 15 Februari.
Perayaan yang bertujuan untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus, dewa kesuburan, yang
dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Acara ini
berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan.
Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan
pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka
bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya
untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya. Sementara
itu, pada 14 Februari 269 M
meninggallah seorang pendeta kristen yang juga dikenal sebagai tabib (dokter)
yang dermawan bernama Valentine. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin
oleh Kaisar Claudius yang terkenal
kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan
militer yang besar. Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria
enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tidak ingin meninggalkan keluarga
dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan
pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila. Claudius
berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung
dengan militer. Lalu Claudius
melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini
sangat tidak masuk akal. Karenanya St.
Valentine menolak untuk melaksanakannya. St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu
menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi
ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia
tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang
hanya diterangi cahaya lilin. Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah
memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri,
namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan
divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Sejak kematian Valentine (14
februari), kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di
daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek
mendongengkan cerita Santo Valentine
pada anak dan cucunya.
Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin
gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka
mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya
mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo
Valentine.Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang
dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun
kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari
yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo
Valentine sebagai bentuk penghormatan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak
ada lagi dan diganti dengan "Valentine
Days”.
Naahh ... sekarang udah sedikit jelas kan asal mula Valentine Days itu. Semoga para pembaca bisa memahami dan mengambil hikmahnya. Dan sekarang come on lestarikan budaya kita sendiri. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam lubang yang nggak bener ya ... See you soon ...
Comments
Post a Comment