Bersama Tak Selamanya


Di siang hari yang terik dan panas. Matahari berada tepat di atas kepala. Tupi si tupai dan Ala si koala terlihat asyik berjalan sambil memperbincangkan sesuatu. Mereka telah bersahabat sejak kecil. Sehingga penghuni hutan tidak heran lagi jika mereka selalu bersama disaat senang ataupun sedih. Esok hari mereka berencana untuk bermain di sungai. Tupi dan Ala tidak sabar bermain dengan air. Mereka ingin merasakan sejuknya air sungai yang mengalir. Tupi merasa bahwa waktu sudah memerintahkan untuk pulang. Kemudian Tupi berpamitan kepada Ala untuk segera pulang.
            Pagi harinya, Tupi bergegas untuk menghampiri Ala. Tupi berjalan sambil menikmati udara pagi yang masih terasa dingin. Sesampainya di rumah Ala, Tupi langsung mengetuk pintu. Tanpa menunggu lama, Ala sudah berada di hadapan Tupi. Mereka segera melaksanakan rencananya yaitu bermain di sungai. Di setiap perjalanan, mereka saling bertukar pikiran untuk kegiatan yang akan mereka lakukan nanti.
            Suara gemericik air sudah menghampiri telinga mereka. Dan betapa bahagianya ketika melihat air sungai berwarna biru menyala. Seakan langit sudah berpindah ke bawah. Tidak ada polusi yang berani menyentuh air sungai itu. Mereka berdua segera berlari mendekati sungai. Melihat situasi dan mengukur kedalaman air adalah hal pertama yang mereka lakukan. Semua itu karena Tupi dan Ala tidak ingin hal buruk terjadi. Hari itu Tupi dan Ala sangat bersemangat. Mereka bermain bersama memainkan apapun. Tupi senang berlari-lari dan menyiprat-nyipratkan air. Sedangkan Ala sangat senang menyelupkan kakinya ke dalam air, seakan dia sedang berendam. Hari sudah berganti menjadi siang. Waktunya untuk pulang dan beristirahat karena besok mereka harus masuk sekolah.
            Hari sudah berganti. Saatnya untuk masuk sekolah dan melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah lonceng pulang sekolah berdentang, Tupi dan Ala pulang menuju tempat bermain mereka yaitu sungai. Disanalah mereka dapat mendapatkan kegembiraan yang luar biasa. Hari berikutnya selalu sama. Mereka bersekolah dan pulang bermain di sungai. Tapi tidak lupa, Tupi dan Ala selalu meminta izin terlebih dahulu kepada orangtua mereka. Setelah izin dikantongi, barulah Tupi dan Ala pergi bermain di sungai.
            Hari ini, Ala tidak bisa ikut bermain bersama Tupi karena dia harus menghadiri suatu pertemuan keluarga. Dan Ala juga belum sempat berpamitan kepada Tupi karena pemberitahuan yang mendadak dari orangtuanya. Pagi itu Ala harus bergegas pergi sehingga dia juga tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
            Tupi sangat kesepian karena hari ini dia harus pulang dan pergi sekolah sendiri serta bermain di sungai sendiri. Kesedihan Tupi juga bertambah ketika sahabatnya tidak berpamitan dan memberikan sebuah alasan. Tapi Tupi akan mengerti apa yang dialami Ala. Persahabatan mereka tidak boleh hancur begitu saja hanya karena tidak adanya sebuah kabar.
            Siang hari tiba. Ala masih mengikuti acara keluarga. Ala bertemu saudara-saudaranya sesama koala. Ala mengikuti acara keluarga setiap dua bulan sekali. Acara itu dilakukan untuk mengobati rasa rindu setiap keluarga. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan untuk Ala. Dia merasakan rindu yang teramat sangat pada Tupi walaupun baru satu hari tidak bertemu. Besok dia ingin memberikan sesuatu kepada Tupi. Sebuah benda sederhana namun bermakna.
            Pagi ini Ala sangat bersemangat berangkat ke sekolah. Ala tidak berangkat bersama Tupi karena dia ingin memberikan sebuah kejutan padanya. Sebuah kotak kecil yang nantinya akan diberikan kepada Tupi. Sesampainya di sekolah, Ala segera masuk ke dalam kelas. Ala menunggu Tupi sambil membaca sebuah buku cerita. Cukup lama menunggu, Tupi tidak kunjung muncul. Ala memutuskan untuk menunggu Tupi di taman sekolah dan membawa kotak kecil yang akan diberikan kepada sahabatnya itu. Namun Ala menyadari adanya sebuah kejanggalan yang terjadi pagi ini. Setiap orang yang berpapasan dengan Ala pasti selalu memberikan senyuman yang sangat ramah dan hangat. Seakan mereka sedang menenangkan Ala. Sampai ada juga yang mengelus punggung Ala. Dia sangat bingung akan apa yang terjadi hari ini.
            Sampai pada akhirnya Ala memberanikan diri untuk bertanya pada temannya.
            “Hey Phu, sebenarnya ada kejadian apa kemarin? Kenapa semua orang tiba-tiba tersenyum hangat padaku seakan menenangkan?” Tanya Ala pada Phumi si flamingo dengan halus.
            “Apakah kamu belum tahu apa yang terjadi kemarin?” Tanya Phumi pada Ala.
            “Aku tidak mengerti. Cobalah untuk menceritakannya padaku? Apa ini semua ada kaitannya dengan Tupi sahabatku?” Tanya Ala semakin khawatir.
            “(Menarik nafas)... Sebenarnya...Sebenarnya...Sebenarnya apakah kamu benar-benar belum tahu akan hal ini?” Tanya Phumi dengan mata yang sedikit sembab.
            “Aku tidak mengerti!! Kumohon jelaskan sesuatu padaku...” Pinta Ala yang saat ini sudah meneteskan air mata.
            “(Menarik nafas lagi)... Tupi Tiada...Maaf” Jawab Phumi singkat dengan kucuran air mata dan bergegas pergi.
            Deg-deg. Suara jantung Ala berdetak kencang. Rasanya seperti ada pedang yang menancap tepat di ulu hati. Kotak kecil yang digenggamnya terlepas dan terjatuh begitu saja. Bulir air mata dan keringat mengucur. Sederet pertanyaan terlintas memenuhi kepala. Seakan kepala ingin untuk meledak. Ala berlari lemas dan segera mengambil tas untuk segera pulang. Semua seperti mimpi.
            “Apa maksud semua ini? Apa yang terjadi? Apa...? Apa...?” Tanya Ala dalam hati.
            Ala sampai di rumah. Namun, Ala merubah langkahnya dan segera menuju rumah Tupi. Sesampainya di rumah Tupi, Ala mengetuk pintu dan keluarlah Ibu Tupi. Ala langsung dipeluk Ibu Tupi. Ibu Tupi menenangkan Ala. Derai air mata tidak kunjung berhenti mengucur. Sampai akhirnya Ibu Tupi menceritakan bahwa Tupi tiada ketika dia sedang bermain di tepi sungai. Kemarin hujan gerimis dan polisi berkata bahwa Tupi terpeleset karena tanah yang licin lalu dia hanyut terbawa aliran sungai. Sampai saat ini jasat Tupi belum ditemukan.
            “Ibu sudah merelakannya. Walaupun terkadang Ibu masih tidak percaya.” Kata Ibu Tupi.
            “Dan seharusnya aku kemarin bersama dengan Tupi. Dia sahabatku. Dia yang setia menemaniku. Kenapa aku kemarin pergi? Kenapa aku kemarin tak memberi kabar padanya? Salahkah aku?” Ujar Ala.
            “Sabar Ala. Jangan salahkan dirimu terus menerus. Ini semua sudah takdir. Ini semua sudah terjadi. Ibu tahu kamu sayang pada Tupi. Dan Ibupun juga sayang padanya. Dia anak Ibu. Namun Ibu mencoba untuk tabah. Kamu juga yang tabah ya. Jangan anggap dunia ini kecil. Kamu masih punya banyak teman. Bayangkan wajah teman-temanmu seperti Phumi, Kiki, Tata, Uul, dan masih banyak lagi. Mereka juga membutuhkanmu layaknya kamu juga membutuhkan mereka. Ini sebuah ujian. Sayang, ujian itu datang karena sebuah alasan. Dan semua ini pasti ada hikmahnya. Tetap tabah dan tersenyum selalu ya.” Terang Ibu Tupi.
            “Baik Ibu, Ala akan belajar tabah. Dan itu semua juga membutuhkan proses. Tapi Ala akan berjuang kok.” Jawab Ala yakin.
            Akhirnya, mulai saat itu Ala belajar untuk tabah dan menerima apa yang terjadi.  Waktu demi waktu berlalu dan Ala telah memiliki sahabat baru. Namun, Ala tetap mengenang Tupi sebagai sahabat terbaiknya. Tupi adalah kenangan terindah Ala.

Comments